Agung
Widodo
Lakon
KORAN
FESTIVAL
TEATER PELAJAR CIREBON (FTPC) 4
SANGGAR
SENI TEATER AWAL
UNIT
KEGIATAN MAHASISWA (UKM) IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
Jl.
Perjuangan Graha Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Lt. II Kmr. 01 By Pass Sunyaragi
Cirebon
Hp.
081222111012 (Fiqi) – 081909943883 (Imam)
SINOPSIS
SANAH
SEORANG ISTRI YANG SELINGKUH DENGAN ORANG TUA KAYA RAYA YANG BERNAMA MBAH
RAKEN. SUAMINYA SUDAH TIDAK MENGURUSINYA LAGI. SUATU SAAT IA DAN MBAH RAKEN
YANG SEDANG PIJIT-PIJITAN DI WARUNGNYA SANAH TERTANGKAP OLEH KAMERA SEORANG
WARTAWAN YANG SEDANG MELIPUT BERITA TENTANG RENCANA PENGGUSURAN OLEH SATPOL PP.
DALAM RANGKA ACARA PROMOSI KOTA. FOTONYA DIMUAT DI HEADLINE SEBUAH KORAN HARIAN
KOTA. AKHIRNYA PROSES PERSELINGKUHAN SANAH DAN MBAH RAKEN TERBONGKAR OLEH
SEBUAH FOTO DI KORAN.
PROLOG PEMENTASAN
NARATOR MEMBACAKAN SINOPSIS DAN PEMERAN DARI BELAKANG
LAYAR. SEMENTARA DI PANGGUNG, SANAH NGALAMUN SENDIRIAN. SELANG BEBERAPA DETIK
MBAH RAKEN DATANG. BERBINCANG-BINCANG SEBENTAR LALU MEREKA AKRAB DAN TERLIHAT
MESRA SAMPAI AKHIRNYA MEREKA BERDUA SALING BERDEKATAN DAN SANAH TERLIHAT
DIPIJIT OLEH MBAH RAKEN. KEMUDIAN DATANG SEORANG WARTAWAN YANG MEMOTRET WARUNG
SANAH. WARTAWAN KELUAR. DI SLIDE MENAMPILKAN REKAMAN MESIN PERCETAKAN KORAN
YANG SEDANG DALAM PROSES PENCETAKAN. SUARA PERCETAKAN GEMURUH. DI ARENA
PENONTON BANYAK PEDAGANG KORAN YANG BERTERIAK MENDAGANGKAN KORAN. MEMBACAKAN HEADLINE.
“RENCANA PENGGUSURAN PKL DALAM RANGKA PROMOSI KOTA.
KARAKTER
|
RAKEN
|
:
|
Orang tua kaya raya jatuh cinta pada sanah. Saingan
joko pemuda parkir.
|
|
JOKO
|
:
|
Pemuda tukang parkir juga suka pada sanah. Saingan mbah
raken.
|
|
KUPAR
|
:
|
Anak laki-laki sanah. Kurang normal
|
|
SANAH
|
:
|
Pedagang warungan. Diributkan raken dan joko. Emaknya
kupar.
|
|
MASDI
|
:
|
Pedagang koran langganan warung sanah.
|
|
KARTA
|
:
|
Suami sanah yang jarang ngurusi.
|
|
PENI
|
:
|
Istri raken yang dikhianati.
|
|
|
|
|
|
LATAR
|
:
|
PELATARAN GEDUNG INSTANSI.
|
|
WAKTU
|
:
|
PAGI HARI SAAT KORAN TERBIT.
|
ADEGAN I
SANAH DATANG MENGGORENG BAKWAN. SUARA PENGGORENGAN
TERDENGAR NYARING. TERUS DITINGGAL KELUAR. KUPAR DATANG MENGAMBIL PISANG DAN
SEBOTOL MINUMAN BERSODA. MINUMAN SODA DIBUKA DAN AIRNYA MUNCRAT KENA MUKANYA.
SETELAH ITU IA MAKAN PISANG DAN KULITNYA DIBUANG SEMBARANGAN. LANTAS IA NGUMPET
DI TONG SAMPAH.
ADEGAN
2
SANAH–EMAKNYA KUPAR–DATANG MEMBAWA KOTAK KRUPUK.
DIDASARKAN DI WARUNGNYA. MERASA KEHILANGAN DAGANGAN DAN MELIHAT KULIT PISANG
TERSERAK, IA MENCARI KUPAR DI TEMPAT PERSEMBUNYIANNYA–KARENA SUDAH TERBIASA.
SANAH
Pasti…., ini pasti
perbuatan Kupar. Wis, dasar anak itu. pisang. Apa lagi yang diambilnya?
(menghitung
dagangan). Minuman. Ya, minuman sebotol. minta
diamputasi itu anak. (mencari kupar) ngumpet
di mana, dia? awas, ya! ketemu tak uyel-uyel kamu, nak! (kupar tidak ada. lantas ia mencarinya lagi) kok ndak ada? Lantas di
mana anak itu? (mengambil wajan–tempat
penggorengan) kupar…. pasti di sini. (kupar
ketangkap. sanah marah-marah, wajah kupar diolesi dengan angus) ni…, satu
lagi untuk kamu. kapan kapok? (kupar lantas pergi. sanah kembali ke warungnya) kalau begini caranya, bisa bangkrut saya, tuhan. kok pas ketiban
saya? apa pas tinggal yang model seperti itu?
ADEGAN
3
RAKEN DATANG. MERAYU SANAH SAMBIL MEMBANTU MENDASARKAN
DAGANGAN SANAH.
RAKEN
ada apa pagi-pagi kok sudah marah-marah?
SANAH
lha sampean pagi-pagi
kok sudah sampai sini?
RAKEN
Orang ditanya belum
dijawab kok malah sudah balik nanya. (AMBIL ROKOK) marah pada siapa? kupar?
SANAH
Tuhan!
RAKEN
Tuhan?
SANAH
Ya, tuhan. kok
ketiban saya diberi anak modelnya seperti itu. setiap hari nyolong dagangan emaknya.
Kalau begitu terus, bisa bangkrut saya.
RAKEN
Namanya anak seperti itu ya diwajari. disyukuri. mending.
lagipula bapaknya juga seperti itu. malah parah bapaknya. kamu ingat, waktu
bapaknya digebuki orang sekampung pas dia nyolong ulek-ulek di rumahnya de
wardi?
SANAH
lah, sudahlah,
kang!
RAKEN
ngakunya kamu
nyidam anak laki-laki. apa bener?
SANAH
ya itu jadinya.
kupar!
RAKEN
berarti sudah
jelas. keturunan. namanya buah, nah.
SANAH
maksudnya?
RAKEN
maksudnya caranya
yang salah. kalau pingin anak laki-laki, kenapa suamimu pakai acara nyolong
ulek-ulek segala?
SANAH
bukan nyolong.
RAKEN
lantas?
SANAH
tapi dia sayang
sama saya, kang. karena itu dia berbuat itu.
RAKEN
Kalau sayang,
kenapa dia meninggalkan kamu sendirian ngulek sambel sendiri di sini?
SANAH
ndak tahu, kang.
barangkali sayangnya pas dia nyolong ulek-ulek itu tok.
RAKEN
tapi saya ndak lho,
nah. saya, kalau sudah sayang sama orang, ya sampai….
SANAH (menyahut)
sampai mati?
RAKEN
hust… jangan
ngomong masalah mati.
SANAH
lha memangnya
kenapa, kang? bukankah di tipi-tipi banyak yang ngomong seperti itu? saya akan
menyayangimu sampai mati.
RAKEN
apa ada orang mati
masih bisa sayang-sayangan?
SANAH
ya ndak ada, kang.
mau sayang-sayangan sama siapa? (sanah ke
belakang nyuci piring) sebenarnya kang raken pagi-pagi kemari mau apa?
sarapan?
RAKEN
kangen!
SANAH
kangen? aduh,
kang..kang.
RAKEN
iya, kangen mijeti
kamu lagi. semalam saya tidak bisa tidur gara-gara kemarin mijeti kamu. serius!
duduk sini saja, nah.
SANAH
saya sedang sibuk,
kang!
RAKEN
nanti tak bantu.
duduk di sini saja dulu. tak pijitin lagi.
SANAH
kang, saya sedang
sibuk.
RAKEN
halah…, sebentar
saja…!
SANAH
kang, kalau kang
raken ngaku sayang saya, tolong kang raken pulang dulu. nanti kemari lagi.
siangan sedikit.
RAKEN
wong saya itu
kangennya sekarang, nah. sejak semalam tak empet pingin ketemu kamu, terus tak
pijeti, kok malah diusir.
SANAH
saya tidak ngusir,
kang.
RAKEN
terus apa kalau
tidak ngusir?
SANAH
wis lah, pokoknya
kang raken sekarang pulang saja dulu. atau kalau tidak mau pulang, ya
jalan-jalan saja ke mana. nanti siang-siang sedikit kemari lagi. masalahnya…..
ADEGAN
4
MASDI DATANG MEMBAWA KORAN. TERGESA-GESA LANGSUNG MENUJU
WARUNG SANAH. MEMBERITAHU KALAU WARUNGNYA AKAN DIEVAKUASI SATPOL PP LANTARAN
ADA PROGRAM PROMOSI KOTA. FOTONYA BERSAMA RAKEN SEDANG PIJAT-PIJATAN TERPAMPANG
DI HALAMAN UTAMA KORAN.
MASDI
bahaya, mbak. sangat bahaya.
RAKEN
bahaya apanya?
koranmu telat terbit?
SANAH
iya, bahaya apa,
di?
MASDI
nanti siang, warung
ini akan dieva.. eva… apa itu…, pokoknya warung ini akan kena tatib oleh satpol
pp. mau digusur. dievaluasi. ya, di-e-v-a-l-u-a-s-i. bahaya!
SANAH
mau digusur? lha
terus bagaimana?
RAKEN
siapa yang ngomong?
berani-beraninya ngomong seperti itu.
MASDI (memberikan koran)
di koran. di halaman pertama. pokoknya warung ini mau
digusur. dievaluasi. mau ada promosi kota. mbak harus pindah. kalau nanti siang
penggusurannya, berarti pagi ini mbak harus pindah.
SANAH
pagi ini?
MASDI
iya, mbak. harus!
nanti siang dievaluasinya.
RAKEN (sambil menduding koran)
evakuasi.
MASDI
pokoknya. terus di
koran itu, foto mbak dan mbah raken pas pijet-pijetan juga dimuat.
jangan-jangan istri mbah raken nanti nglabrak kamu, mbak. itu juga bahaya.
RAKEN
istri yang mana?
kamu jangan ngawur, di.
SANAH
aduh…, bagaimana
lagi ini, kang?
RAKEN
jangan takut. untuk
masalah kedua, tenang saja. saya sudah tidak punya istri alias duda.
MASDI
kata joko istri
mbah masih satu yang hidup?
SANAH
aduh… lha terus
piye?
RAKEN
memangnya istri
saya berapa kok masih satu yang hidup? dasar joko. Joko kere. awas kalau ketemu
tak poklek-poklek cangkeme.
MASDI
sudah, pokoknya
mbak sanah hati-hati saja. kalau bisa warung ini pagi ini dipindah. masalahnya
nanti siang mau digusur. terus masalah foto, mbak sanah siap-siap kalau
dilabrak orang.
MASDI
PERGI
ADEGAN
5
SANAH
SEDIH DAN KETAKUTAN. IA BINGUNG.
SANAH
ini apalagi ini?
urusan kok ya ada-ada saja. yang satu belum selesai datang dua lagi. nasib kok
selalu apes.
RAKEN
jangan dipercaya
omongannya masdi tadi. bener saya sudah tidak punya istri lagi. makanya saya
sering kemari.
SANAH
jangan dipercaya
gimana, kang. siapa tahu bener?
RAKEN
tidak. memang
cangkeme joko kayak gitu. cangkem koran. apalagi katanya masih ada satu yang
hidup. memangnya saya tukang blantik istri? wis, pokoknya kalau nanti ketemu
joko tak poklek-poklek cangkeme. sudah, ndak pa-pa.
SANAH
tapi saya takut,
kang, kalau omongan masdi itu bener.
RAKEN
kamu masih juga
ndak percaya kalau saya ini duda? isteri saya itu sudah mati lama.
SANAH
saya masih ndak
percaya.
RAKEN
isteri saya itu
sudah mati. ketabrak sepur.
SANAH
sepur dari mana?
setahu saya di sini ndak ada sepur!
RAKEN
itu sekarang! dulu
warungmu ini setiap hari di lalui sepur. dan pagi-pagi sekali, saat itu saya
ribut sama isteri saya. lalu isteri saya kabur. tahu-tahu sudah mati ketabrak
sepur.
SANAH
lha terus buktinya
mana?
RAKEN
kamu masih tidak
percaya? kamu tahu ndak kuburan di pojok sana. cari saja patok yang ada namanya
hasti. itu kuburan isteri saya.
SANAH
kok malah disuruh
nyari patok. saya cuma perlu bukti kalau sampean itu duda.
RAKEN
kamu masih minta
bukti? ya sudah, sekarang ikut saya.
SANAH
ikut ke mana?
RAKEN
ya ke kuburan.
SANAH
kuburan mana?
RAKEN
kuburan pojok sana.
SANAH
ndak mau ah, kang,
kuburan itu kan angker.
RAKEN
Makanya kalau di omongin itu didengarkan. Di percaya.
SANAH
TERDIAM DAN NGELAMUN MEMIKIRKAN SESUATU
RAKEN
eh……., kok malah
meneng, mikirin apa lagi? apa masih tidak percaya kalau saya duda.
SANAH
ndak, kang, saya
lagi mikir masalah yang satu.
RAKEN
urusan warungmu
nanti gampang. kalau benar nanti siang dibongkar, besok bikin baru yang lebih
gede. yang lebih nggaya. ganti dengan tembok. biar orang-orang betah beli di
sini.
SANAH
di sini? wong
sebentar lagi dibongkar.
RAKEN
maksud saya di
bakal warungmu nanti.
SANAH
nanti kapan, kang?
lagian mau dibangun di mana? tanah rumah saja ngepres!
RAKEN
kok bingung mau
dibangun di mana. kamu maunya dibangunkan di mana? di depan kantor camat? di
tengah alun-alun simpang lima? di belakang gedung dpr-mpr? atau di depan gedung
istana merdeka sekalian? biar kalau ada orang demo warungmu juga ikut masuk
tivi?
SANAH
ah.., kang raken
bisa saja.
RAKEN
sudah, ndak bingung
lagi, ‘kan? sini lho, tak pijitin
di sini? wong sebentar lagi dibongkar.
ADEGAN
6
KUPAR
KEMBALI. CUMA LEWAT. LANTAS DIPANGGIL EMAKNYA.
SANAH
kupar.
ACUH.
MAIN SENDIRI.
RAKEN
sudah biarkan saja.
kamu duduk sini saja. tak pijitin.
SANAH
DUDUK DI SEBELAH RAKEN.
ADEGAN
7
JOKO DATANG MEMBAWA WAJAN PENGGORENGAN SAMBIL DIPUKULI IA
MENYANYI. MELIHAT KUPAR MAIN IA GODA.
JOKO
Mau? oh… rupanya sudah. nambah?
KEMUDIAN MELANGKAH MENUJU WARUNG. JOKO MELIHAT SANAH DAN
RAKEN SEDANG MESRA-MESRAAN. JOKO CEMBURU. KUPAR MELEMPAR JOKO PAKAI KULIT
PISANG. LANTAS JOKO PUN MELEMPAR KUPAR PAKAI WAJAN. SUARANYA MENGAGETKAN SANAH
DAN RAKEN.
SANAH
ada apa, jok?
JOKO
ini lho, nah.
anakmu. kurangajar!
SANAH
kenapa? sudah
biarkan saja dia.
RAKEN (menemui joko. marah-marah mencekik leher
joko)
ini dia orangnya. kamu ngomong sama masdi apa tentang
saya?
SANAH
e…, sudah-sudah.
kayak anak kecil saja.
RAKEN
MELEPASKAN JOKO.
SANAH
kamu jadi
membawakan saya wajan?
RAKEN
wajan? kenapa
kemarin tidak ngomong sama saya?
SANAH
kemarin joko yang menawari saya sendiri. katanya mau
dibawakan wajan. wajan saya ‘kan sudah tipis. setiap hari saya pakai ngraupi
wajahnya kupar. bawa ke sini saja, jok.
RAKEN
kalau sudah tipis,
seharusnya ngomong sama saya. biar saya bawakan yang lebih besar dan lebih
tebal. tidak seperti wajan itu.
JOKO
katanya
pengertian? di mana saja, orang yang ngakunya pengertian tidak harus diberi
kode dulu. sekali ada sinyal langsung dibelikan pulsa. langsung dilahap. lhes,
lhes, lhes. kayak jalan tol, pas mau masuk loket, sopir pasti sudah menyiapkan
uang pas.
MEMBERIKAN
PENGGORENGAN PADA SANAH. LANTAS PERGI.
SANAH
tidak duduk dulu,
jok? tak buatin kopi.
JOKO
ndak usah, nah. tak
di sana saja. barangkali sudah ada yang mau parkir.
SANAH
halah…, sebentar
saja. lagipula masih jam berapa? paling juga mbah wangsa pakai pit onthel nitip
parkir.
JOKO
DUDUK.
SANAH
wajanmu kok
sepertinya masih baru. baru kamu pakai berapa hari?
JOKO
iya, baru lima
hari. kemarin saya beli buat masak mie kalau malam.
RAKEN
jaga parkir juga
hasilnya berapa? paling cukup buat makan mie. itu pun tanpa telor.
SANAH
sampean itu lho,
kang.
JOKO
biar, nah. paling
sebentar lagi juga sudah tidak kelihatan lagi di sini. mumpung masih.
SANAH
maksud kamu apa,
jok?
RAKEN
kalau cuma adu lari
sama kamu, saya masih berani, jok.
SANAH
sudah, sudah!
kalian ini kalau bareng isinya ribut. terus kamu kalau masak mie pakai apa kok
wajanmu kamu berikan pada saya?
JOKO
(sambil membolak-balik koran)
cuma itu yang bisa saya berikan, nah. nanti kalau dapat
rejeki tak beli lagi saja. sementara biar mesen mie di warung saja dulu.
KUPAR
MENGAMBIL DAGANGAN DAN LARI PERGI.
SANAH
e…. kurangajar!
RAKEN
MENGEJARNYA.
RAKEN
par… berhenti!
SANAH
wis, kalau diatur
seperti ini terus, saya bisa bangkrut, jok.
JOKO
mau bagaimana lagi,
nah? memang kupar seperti itu. ditelateni saja. siapa tahu juga nanti dia malah
yang jadi. katanya anak membawa rejeki sendiri-sendiri.
JOKO
KEMBALI MEMBACA KORAN.
SANAH
semoga saja, jok.
JOKO
(terkejut membaca berita koran)
lho, kamu sudah ngerti berita ini, nah?
SANAH
tadi, masdi kemari
geger kalau warung saya mau digusur. kena tatib. katanya akan ada acara promosi
kota. ah, ndak tahu acara apa lagi itu, jok? padahal dulu sepertinya juga ada
acara seperti itu. nyatanya sekarang hasilnya mana? acara apa to itu, jok?
JOKO
oh… acara promosi
kota. jadi, kota ini mau dipromosikan. berarti nanti akan banyak turis ke kota
ini. orang-orang londo. lha terus, kamu bagaimana? mau pindah di mana?
SANAH
ah, ndak tahu, jok.
tadi sih mbah raken ngomong kalau saya akan dibangunkan warung pakai tembok.
tapi ya saya masih belum tahu.
JOKO
jangan mau, nah.
iya kalau anak-anaknya ndak masalah. kalau ndak terima kalau kamu dibangunkan
warung olehnya? dikiranya kamu memeras. terus kamu dilabrak keluarganya.
bagaimana?
SANAH
ya ndak mau. lha
terus bagaimana? tadi si masdi juga ngomong masalah foto yang ada di koran itu.
katanya saya kalau dilabrak istri mbah raken.
JOKO
iya bener itu, nah.
kalau sampai istrinya ngerti fotomu dia di koran, wah bakal bahaya itu, nah.
SANAH
apa bener mbah
raken masih punya istri?
JOKO
dengar-dengar, kata
orang-orang, masih ada satu yang masih hidup. dengar-dengar dulu istrinya
tujuh. dibangunkan rumah sendiri-sendiri. memang dia orang paling kaya di
desanya, tapi pelit.lit-lit.
SANAH
aduh, saya kok
malah jadi takut. ternyata mbah raken tekek ya, jok? kalau ada otok-otok,
lantas dia gembor tekek. otok-otok, tekek.
JOKO
namanya tekek ya
seperti itu.
SANAH
padahal dia itu
ngakunya sudah duda. katanya, istrinya pas matanya sudah bawur, kabur terus
mati ditabrak sepur. jasadnya hancur. tadi pas masdi ngomong, dia juga ngakunya
sudah duda. terus dia marah-marah katanya mulut kamu mau dipatah-patah. terus
bagaimana saya, jok?
JOKO
begini saja, nah.
kalau kamu dilabrak istrinya, biar saya saja yang tandangi. lagipula wajahmu di
foto cuma kelihatan separo saja. ndak jelas. urusan warungmu, kamu pakai saja
rumah saya. nanti biar saya sekat. yang separo kamu pakai untuk warung, yang
separo saya yang pakai sendiri. jadi kalau malam saya ‘kan bisa pesen mie di
warungmu.
SANAH
ah, kamu, jok.
kalau benar jadi di rumahmu, ndak usah mesen juga saya buatin. tapi apa ndak
ngrepoti kamu, jok?
JOKO
ndak apa-apa. kalau
ndak untuk kamu, untuk siapa lagi? oh ya, kemarin saya beli sandal jepit, tapi
kekecilan. sepertinya pas untuk kaki kamu. coba ya?
JOKO MEMAKAIKAN SANDAL DI KAKI SANAH. KARTA KELIHATAN
DATANG.
JOKO
eh…, kang karta.
KARTA DATANG AMBIL MAKANAN SAMBIL MENANYAKAN KABAR SANAH
KARTA
bagaimana kabarmu,
nah?
SANAH
kang, kamu itu
setiap pagi datang cuma ngambil makanan terus pergi. koyok anake wae. setiap
hari nyolong terus dagangan emaknya. bapak karo anak podo wae. nanti siang
warung ini mau digusur, kang.
KARTA
kalau digusur, ya
pindah saja, begitu saja ribet!
SANAH
pindah-pindah!
ninggalin warisan juga tidak. suami kok kayak gitu!
KARTA
nah, begini-begini juga
suamimu. lagi pula siapa yang ngomong kalo warung ini mau digusur?
SANAH
ini lho di koran.
SANAH
LALU LARI SAMBIL MEMBAWA KORANNYA.
KARTA
lho kok malah lari.
koran apa?
KARTA
nah?!!
KARTA
koran apa?
JOKO
begini lho, kang.
sanah itu lagi bingung kalau nanti siang warung ini akan digusur.
KARTA
lha digusur kok
malah lari? tadi sanah bilang masalah koran, koran apa, jok?
JOKO
justru itu, kang,
di koran ada berita penggusurannya.
KARTA
iya, tapi kok sanah
malah lari? bukannya diomongkan baik-baik!
JOKO
barangkali dia
takut.
KARTA
takut apa?
JOKO
ya takut ketahuan.
KARTA
ketahuan apa?
JOKO
ya pokoknya takut.
wedi. wedi, kang. wedi.
KARTA
jok! saya tahu
kalau takut itu wedi, terus, wedi karo sopo?
JOKO
wedi ketahuan!
KARTA
kamu kalau ngomong yang
bener jok! mesti kamu merahasiakan isi koran itu. awas, kalau kamu tidak terus
terang, saya…!
JOKO
ada fotonya! di
koran. sedang selingkuh!
KARTA
selingkuh? siapa?
sanah?!!
JOKO
ya, kang.
KARTA
tenan?!!
JOKO
kalau ndak percaya,
lihat saja sendiri korannya!
KARTA
yo wis. kalau kamu
sampai bohong, awas!
KARTA
MENGEJAR SANAH. SANAH KEMBALI KE WARUNGNYA.
SANAH
jok, bagaimana ini?
korannya mau diminta kang karta!
JOKO
ya sudah. korannya
disembunyikan saja.
JOKO MEMBERIKAN ARAHAN SANAH MENYEMBUNYIKAN KORAN. RAKEN
DATANG MEMBAWA KUPAR.
RAKEN
wah, memang repot
ngatur anakmu. bener kamu. kenapa kamu ketiban jatah model kupar? padahal sudah
saya rayu-rayu. tak belikan siomay langsung dibabat ludes. terus tak belikan
cap cay, juga langsung dilahap. habis sepuluhribu. masih juga makanannya
digembol. terus tak paksa wae. tangane tak ikat. sebenarnya ndak tega, saya
mengikat kupar. biasanya, saya sama anak sangat sayang. pasti tak gendong. tapi
saya tadi sudah capai ngejar sampai depan kuburan.
JOKO
kok tidak sekalian
mampir di kuburan saja kalau capai?
RAKEN
kalau saya tidak
capai seperti ini, tak patahin mulutmu, jok.
SANAH
joko… sudah.
JOKO
PERGI.
ya sudah. hati-hati sama mbah raken?
ADEGAN
9
KARTA DATANG LALU MEMINTA KORAN YANG SUDAH DISEMBUNYAIKAN
SANAH.
KARTA
mana korannya, nah?
SANAH
TERDIAM TIDAK BERANI MENJAWAB.
RAKEN
lho kamu, to! saya
kira kamu sudah mati pas kamu nyolong ulek-ulek. koran apa, to?
KARTA
ini lho, mbah.
koran yang muat foto sanah selingkuh.
SANAH
selingkuh sama
siapa?
RAKEN
to, setiap hari
saya itu kemari. ke warung istrimu. di sini. tapi saya tidak pernah lihat
istrimu selingkuh. istrimu itu selalu ngurusi kupar yang setiap hari nyolong
terus.
KARTA
tapi kata joko,
sanah selingkuh sama orang. buktinya di koran. katanya, fotonya di muat.
makanya saya pingin minta korannya.
SANAH
koran apa?
KUPAR MENGAMBIL KORAN DARI WARUNG. LANTAS KARTA MEMINTA
KORAN YANG ADA DI TANGAN KUPAR. KARTA MEMBOLAK-BALIK KORAN SAMPAI BERANTAKAN.
LALU KORAN DISEBAR KE LANTAI. KARTA MARAH. MELANGKAH MENUJU ARAH WARUNG.
RAKEN
tak kira kamu itu
sudah mati, to.
KARTA
belum, mbah! karta
masih sanggup meladeni lelaki selingkuhannya sanah.
RAKEN
jangan, to.
KARTA
kenapa, mbah. apa
tidak pantas saya membunuhnya.
SANAH
jangan, kang. apa
tidak ada cara yang lain selain membunuh?
RAKEN
memangnya kamu
tidak kasihan sama sanah. ngurusi kupar sendirian. ngulek sambel sendirian.
KARTA
sanah sudah
terbiasa sendiri. yang jelas sekarang juga saya harus menemukan lelaki
selingkuhanmu. cepat berikan korannya.
SANAH
sudah hilang, kang.
KARTA
wis pokoknya harus
kamu berikan!
ADEGAN
10
LANTAS PENI -ISTRI RAKEN- DATANG MARAH-MARAH DAN MENJEWER
KUPING RAKEN GARA-GARA MELIHAT FOTO DI KORAN.
PENI
oh… rupanya di
sini? pamitnya beli obat. pantas setiap hari ngaku sakit. sakit mriang?
sekarang sudah tidak bisa mengelak lagi. ini buktinya.
MEMBANTING
KORAN. PERGI. KORAN DIPUNGUT KARTA.
KARTA
rupanya dapurmu,
mbah yang selama ini selingkuh dengan istri saya. pantas setiap hari kamu
datang ke sini.
RAKEN
saya kira kamu
sudah mati, to.
KARTA
(ambil gebuk)
saya tidak mau tahu. yang jelas saya tidak terima.
RAKEN
LARI. LANTAS DIKEJAR KARTA.
JOKO MASUK. SANAH TERTUNDUK SEDIH DI KURSI WARUNGNYA.
JOKO
(disumprit)
Eh…, ada apa kok meneng saja?
SANAH
DIAM SAJA.
JOKO
hust…eh…, kesambet
malah.
JOKO
MERASA BERSALAH. JOKO PUN IKUT DIAM. LALU SANAH NYAMPERI JOKO.
SANAH
kamu yang selama
ini saya percaya, ternyata kamu yang buat perkara. gara-gara kamu sekarang
karta tahu kalau saya selingkuh dengan mbah raken. terus raken sekarang sedang
dikejar karta, mau dibunuh. wah wis, jok. saya sudah tidak tahu harus bagaimana
lagi. saya sudah tidak percaya pada siapa pun. bahkan pada tuhan pun saya juga
tidak percaya. kalau akhir ceritanya seperti ini, mending saya mati saja.
SELESAI